Mahasiswa Gelar Aksi Damai Tolak Militerisme dan Investasi di Tanah Papua, Satu Orang Terluka Akibat Tembakan

Jayapura, DEIYAI WIYAI NEWS – Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Tanah Adat menggelar aksi damai di Jayapura dengan membawa tiga tuntutan utama, yaitu “Tolak Militerisme dan Investasi di Seluruh Tanah Papua, serta Pembebasan Tahanan Politik.” Aksi ini ditujukan kepada Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua.

Aksi dimulai pada pukul 07.38 WIT. Massa dari Sekretariat BEM dan DPM FKIP bergerak menuju Gapura Uncen Bawah, tiba sekitar pukul 07.43. Di titik tersebut, para peserta aksi melakukan orasi dengan tema “Darurat Militer dan Investasi di Tanah Papua.”

Sekitar pukul 08.24, peserta bernama Ebenius Tabuni bergabung dengan massa aksi di Uncen Bawah. Hingga pukul 09.55, massa tetap melakukan orasi, kemudian bergabung dengan kelompok lain dari USTJ dan sejumlah titik lainnya menuju Lampu Merah Abepura pukul 10.20.

Setibanya di Lingkaran Abepura, massa menunggu arahan dari koordinator lapangan (korlap) umum. Sekitar pukul 11.45, seluruh kelompok aksi telah berkumpul dan melanjutkan orasi bersama. Namun, karena massa menempati jalan utama, pihak keamanan meminta agar mereka berpindah ke arah Mata Jalan Biak.

Menurut informasi dari PBH-LBH Papua yang mendampingi aksi, korlap dan massa sempat berkoordinasi dengan baik dan mulai bergeser secara tertib ke lokasi yang diminta. Namun, saat proses perpindahan, puluhan anggota Brimob yang mengawal dengan membawa pentungan dan senjata membentuk formasi melingkar di sekitar massa.

Desakan fisik dari aparat yang terlalu rapat memicu ketegangan. Massa aksi beberapa kali meminta aparat untuk “pelan”, tetapi dorongan tetap terjadi hingga menimbulkan reaksi berupa pelemparan batu oleh sebagian massa. Situasi memanas, dan aparat kemudian menembakkan gas air mata, water canon, serta peluru tajam ke arah massa.

Dalam insiden tersebut, Ebenius Tabuni dilaporkan terkena peluru senjata api di bagian tangan kanan. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Abepura, di mana tim medis melakukan operasi mulai pukul 14.30 WIT hingga sekitar tengah malam.

Menurut pihak keluarga, peluru berhasil dikeluarkan oleh dokter, namun pihak rumah sakit tidak menyerahkan barang bukti peluru dengan alasan keamanan.

“Kondisi Ebenius kini sudah mulai membaik setelah menjalani operasi. Kami memutuskan membawanya pulang karena situasi di rumah sakit tidak kondusif,” ujar perwakilan keluarga dalam pernyataannya.

Keluarga dan rekan-rekan seperjuangan menyampaikan terima kasih atas dukungan doa dari masyarakat Papua serta berharap agar kejadian serupa tidak terulang. Mereka juga menyerukan agar ruang demokrasi dan penyampaian aspirasi di Tanah Papua tetap dijaga tanpa kekerasan.

“Tetap semangat dan jangan terpengaruh bisikan siapapun. Kita harus tetap pada posisi perjuangan kita,” tulis salah satu rekan Ebenius dalam pernyataan penutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *