Oleh: Hendrika Keiya
Esensi awal pekerjaan manusia di era sebelum manusia mengenal teknologi, yaitu pada zaman prasejarah, dilakukan melalui kerja fisik seperti bercocok tanam. Kehidupan manusia saat itu bersifat primitif, kolektif, dan harmonis, selalu hidup berdampingan tanpa adanya rasa malas, baik antarindividu maupun kelompok. Yang ada hanyalah semangat gotong royong sesuai dengan kebutuhan fisiologis manusia.
Segala perubahan dunia serta behaviorisme manusia terjadi ketika teknologi lahir secara bertahap, dari masa prasejarah hingga sampai pada era digitalisasi dunia AI. Sejak teknologi pertama lahir di awal era prasejarah, ketika manusia belum mengenal tulisan dan masih menggunakan batu sebagai alat, komunikasi manusia pun berkembang seiring pergantian zaman, dari era kuno hingga klasik. Zaman ini dimulai dengan penemuan tulisan dan sistem komunikasi, yang dikenal melalui tulisan piktografik oleh bangsa Sumeria (3000 SM) dan hieroglif Mesir (2900 SM).
Kemudian manusia memasuki era abad pertengahan, atau dikenal dengan awal Renaisans, yang ditandai dengan munculnya mesin cetak oleh Gutenberg pada tahun 1455. Bersamaan dengan itu lahirlah perkembangan ilmu pengetahuan. Setelah abad ini usai, manusia memasuki zaman Revolusi Industri pada abad ke-18 dan ke-19, yang ditandai dengan penemuan mesin uap, manufaktur awal, serta perubahan besar dalam produksi dan transportasi. Pada masa ini juga muncul alat elektronik seperti telegraf dan telepon, serta komputasi awal oleh Augusta Lady Byron (Ada Lovelace) yang menulis program komputer pertama pada tahun 1830-an.
Revolusi Digital dan Lahirnya AI
Memasuki abad ke-20, manusia memasuki era yang kita kenal sebagai era digital atau Revolusi Digital, ditandai dengan penemuan transistor, komputer, dan internet (ARPANET, 1969). Penyebaran media elektronik seperti televisi, radio, dan telepon seluler semakin masif dengan hadirnya mikroprosesor, komputer personal, dan ponsel. Hingga akhirnya manusia memasuki era yang sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu era digitalisasi lanjutan atau era Artificial Intelligence (AI).
AI (Artificial Intelligence) merupakan suatu teknologi yang digambarkan memiliki kecerdasan menyerupai manusia, bahkan sering divisualisasikan dalam bentuk robot. AI berada pada posisi yang setara dengan stimulus dan kognitif manusia. Konsep ini diukur oleh pendiri sistem komputer modern, Alan Turing, pada tahun 1950-an melalui “Turing Test” untuk menguji sejauh mana kecerdasan mesin mampu mengelola informasi. AI mampu mengendalikan sistem komputer, memproses data, menginput dan mengoutput informasi, serta saling bertukar data melalui mesin. Teknologi ini digunakan dalam asisten virtual, analisis data, mobil otonom, hingga diagnosis medis.
AI bekerja menggunakan machine learning (pembelajaran mesin) dan deep learning untuk menjalankan tugas-tugas kompleks, mempraktikkan pekerjaan manusia secara otomatis, memberikan pembelajaran yang efisien, serta terus berinovasi dalam setiap aktivitas.
COVID-19 dan Akselerasi Digitalisasi Global
Jika ditelusuri, AI sebenarnya telah ada sejak tahun 1950-an, namun keberadaannya mulai terasa secara masif sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2019. Dari angka 19 dan alfabet AI, jika dijabarkan secara simbolik, A berarti 1 dan I berarti 9, yang jika digabungkan menjadi 19 atau AI. Tanpa disadari, konsep besar ini diyakini oleh sebagian pihak sebagai bagian dari agenda penguasa dunia atau kapitalis global yang ingin mengendalikan peradaban, bahkan menyamai peran Tuhan.
Covid-19 dipandang sebagai narasi besar yang dibangun untuk mengalihkan pekerjaan manusia dari aktivitas fisik ke dunia elektronik dan teknologi digital berbasis AI. Virus corona atau Covid-19 digambarkan sebagai virus yang menyebar luas dalam sekejap tanpa memandang identitas manusia. Untuk mengantisipasi penyebaran virus, masyarakat diwajibkan menggunakan masker berdasarkan data medis yang menyatakan bahwa virus menyebar melalui droplet, sentuhan tangan, masker bekas, dan barang-barang yang terkontaminasi.
Covid-19 menjadi ancaman besar bagi setiap individu karena melumpuhkan hampir seluruh aktivitas manusia. Demi menjaga relasi sosial, alternatif yang dilakukan adalah pengalihan interaksi sosial ke teknologi AI. Interaksi sosial dialihkan melalui WhatsApp, proses pembelajaran tatap muka digantikan dengan Zoom Meeting, ibadah dilakukan melalui live streaming, dan aktivitas belanja dialihkan ke platform daring seperti Shopee dan Lazada. Secara realitas, Covid-19 juga memicu krisis ekonomi global, menghambat distribusi perusahaan, penjualan hasil panen masyarakat, serta pendapatan ekonomi. Hanya oleh virus corona, pola pikir manusia terguncang dan ketergantungan terhadap teknologi semakin meningkat.
Fungsi kerja AI di masa depan
Jika manusia ingin hidup dalam kehidupan utopia, yang menggambarkan kehidupan tanpa problem, kelaparan, kesakitan, kematian, penyakit, perang, dan ketidakpastian, maka sistem pemerintahan pun tidak lagi dijalankan oleh manusia. Seluruh aktivitas kehidupan akan dikendalikan oleh AI atau robot yang telah disepakati bersama untuk mengatur sistem peradaban baru. Sistem ini dikonsep dan diprogram oleh kekuatan kapitalisme global dengan fokus pada humanisme dinamis yang berlandaskan prinsip-prinsip alam semesta. Diyakini bahwa keharmonisan dunia akan terjaga sebagaimana bumi telah bertahan selama jutaan tahun.
Ditegaskan pula bahwa bumi akan baik-baik saja tanpa esensi manusia. Yang ada hanyalah kefanaan dan keabadian. Sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa manusia gagal mengelola dunia, yang ada hanyalah kehancuran demi kehancuran, meskipun telah melewati berbagai sistem peradaban seperti kekaisaran, sosialisme, liberalisme, hingga demokrasi. Kebebasan yang dijalankan manusia sering kali berujung pada ego, supremasi kekuasaan, dan dinasti politik. Jika kehidupan manusia digantikan oleh AI, maka sistem pemerintahan diyakini akan lebih relevan karena tidak memiliki kepentingan, motivasi, atau keberpihakan, melainkan hanya berorientasi pada keadilan bagi seluruh makhluk di bumi.
Jika pekerjaan AI ini disepakati, maka hal tersebut akan menandai perubahan peradaban manusia yang sangat mengejutkan. Pada masa ini, seluruh kebutuhan manusia akan dipenuhi oleh teknologi supercanggih. Dengan hadirnya nuclear fusion di masa depan, energi tanpa batas akan tersedia secara gratis, murah, dan melimpah. Dengan energi gratis, seluruh aktivitas manusia akan terpenuhi. AI dan robotika akan memproduksi serta menyediakan kebutuhan dasar manusia seperti kesehatan, makanan, tempat tinggal, hingga hiburan.
Dengan terpenuhinya seluruh kebutuhan fisiologis manusia, manusia tidak lagi terdorong untuk berbuat jahat. Manusia tidak perlu bekerja keras untuk bertahan hidup karena semuanya telah tersedia. Kehidupan utopia ini dijalankan oleh AI berbasis advanced quantum computing yang mengelola kesehatan, ekonomi, transportasi, kebutuhan sosial, industri, dan bisnis secara adil. Seluruh data manusia dan benda di dunia akan terhubung secara nirkabel dengan pikiran manusia, sehingga kehidupan berlangsung secara instan tanpa kerja fisik dan keringat.
Paradoks Kebahagiaan dalam Dunia Tanpa Proses
Namun, benarkah manusia pada fase ini telah mencapai kebahagiaan dan memahami arti hidup yang sempurna? Ketika manusia tidak lagi memiliki harapan dan proses, ketika segala keinginan terpenuhi dengan mudah, maka makna kehidupan pun perlahan menghilang. Teknologi awalnya diciptakan untuk mempermudah hidup, tetapi ketika seluruh proses diambil alih oleh teknologi, tidak ada lagi ruang bagi manusia untuk berjuang. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada manusia yang memperoleh segalanya tanpa proses.
Manusia tidak lagi memahami arti harapan, perjuangan, dan kehidupan nyata. Segalanya berada dalam kendali teknologi. Ironisnya, manusia mungkin tidak perlu bekerja untuk mendapatkan makanan, tetapi mereka tidak lagi merasakan kebahagiaan dari hasil kerja tangan sendiri. Seorang ibu mungkin tidak merasakan sakit persalinan, tetapi kehilangan makna emosional saat memeluk bayinya. Anak muda pun akan berimajinasi bahwa kehidupan sederhana di masa lalu jauh lebih bermakna dibanding kehidupan modern yang serba instan.
Penutup
Cobalah bandingkan, hidup tanpa teknologi sering kali terasa lebih bahagia dibanding hidup sepenuhnya di bawah kendali teknologi. Ingatlah bahwa emosi yang kita rasakan adalah anugerah Tuhan yang sempurna.
“Mengucap syukurlah atas segala yang diberikan oleh Tuhan, karena itulah kehidupan yang paling sempurna.”
(*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang)












