Oleh: W.Kaibou T. Doo
Di bawah kaki gunung Deiyai yang selalu diselimuti kabut pagi, hiduplah seorang perempuan dari Kampung Muyetadi bernama Mege Tuwatai Yagamo. Orang-orang menyebutnya perempuan bermata senja, karena tatapannya lembut tetapi menyimpan kedalaman yang tak bisa ditebak.
Ia membawa nama kampungnya dengan bangga perempuan Muyetadi dikenal kuat, sabar, dan setia pada pilihan hati.
Ketika ia dewasa, para pria dari berbagai Kampung dan wilayah mulai datang melamar. Ada yang datang membawa babii dan rumah. Ada yang datang dengan janji rumah besar dan ladang luas dan banyak sekali.
Setiap malam halaman rumah perempuan Muyetadi itu penuh nyala api unggun. Para pria duduk datang Di Emawapa (Honai), memamerkan kekuatan dan kekayaan. Orang tuanya bangga. Para tetua tersenyum. Semua yakin Mege akan segera memilih.
Tetapi hati Mege diam seperti danau tanpa riak. Sebab jauh sebelum para pelamar berdatangan, hatinya sudah disentuh oleh seseorang.
Ia adalah pria pejuang yang jarang pulang. Tubuhnya membawa debu perjalanan, matanya membawa mimpi tentang tanah yang merdeka dan bermartabat. Pertemuan pertama mereka terjadi di danau paniai diatas perahu saat senja, tidak jauh dari pelabuhan yugeiyo Bado.
***
Suatu hari itu Mege sedang mencuci noken. Arus air memantulkan cahaya jingga. Pria itu muncul kelelahan dan meminta air minum dan (Nota) ubi Jalar. Ketika tangan Mege menyerahkan nota dan Air, hatinya bergetar — bukan karena takut, tetapi karena ia merasa seolah takdir sedang menyentuhnya untuk pertama kali.
Senyum pria itu sederhana. Tidak menjanjikan harta. Tidak menjanjikan kenyamanan. Tetapi ada kejujuran yang begitu bersih hingga langsung menembus hati perempuan Muyetadi itu.
Sejak hari itu, dunia terasa berbeda. Ketika para pelamar datang membawa harta, Mege hanya melihat bayangan senyum di tepian kali. Ketika mereka berbicara tentang masa depan aman, ia teringat mata seorang pria yang memilih jalan berbahaya demi banyak orang.
Orang tuanya bertanya, para tetua mendesak, “Kenapa kau menolak semua pria baik itu?”
Mege menjawab pelan, suara perempuan Muyetadi yang teguh: “Karena hatiku sudah pergi lebih dulu.”
Suatu malam tanpa bulan, pria pejuang itu datang kembali. Ia berdiri tanpa membawa apa pun selain luka perjalanan.
“Aku tidak punya harta,” katanya.
“Aku hanya punya jalan panjang yang belum selesai.”
Mege menatapnya lama. Ia melihat hidup yang keras, kemungkinan kehilangan, dan air mata. Tetapi ia juga melihat cinta yang jujur — cinta yang tidak meminta balasan.
Ia melangkah maju dan berkata:
“Aku perempuan Muyetadi. Kami diajarkan memilih sekali dan setia selamanya. Aku memilih pria yang pertama menyentuh hatiku.”
Kampung menjadi sunyi. Angin malam berhembus pelan, seolah menyetujui.
Sejak saat itu orang-orang bercerita tentang Mege Tuwatai Yagamo — perempuan dari Muyetadi yang dilamar banyak pria, tetapi hanya mencintai satu: pria pejuang yang menyentuh jiwanya pertama kali.
Dan mereka berkata:
“Cinta sejati bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, tetapi siapa yang pertama menyentuh jiwa.”
Bersambung….










